Dari “Pandemi” Jadi ”Endemi”?

Ilustrasi seseorang sedang memakai APD (Sumber foto: Pixabay)

Oleh : Annisa Nadhira Hamidah – Mahasiswa Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Malang

”kita harus sadar bahwa pandemi ini belum usai. Harapan untuk hidup normal kembali jangan hanya tersimpan di dalam angan. Itu semua layak untuk kita perjuangkan”        

Opini – Covid-19 atau yang biasa kita sebut virus corona. Pastinya kita semua tahu dan cukup paham akan adanya virus yang sedang hangat dibicarakan dalam kurun waktu hampir 2 tahun belakangan ini. Sejak pertama kalinya WHO (World Health Organization) mengumumkan bahwa penyakit ini menjadi pandemi pada 11 Maret 2020 dan sejak saat itu banyak masyarakat yang dilanda keresahan. 

Persebaran virus corona yang cukup cepat, menyebabkan runtuhnya perekonomian di berbagai macam sektor hingga menyebabkan krisis global, dan tentu saja ini bukanlah masalah yang sepele. Pastinya kita semua wajib untuk menaati segala peraturan pemerintah agar dapat memutus mata rantai persebaran covid-19 dengan segera. 

Banyaknya jeritan masyarakat akan sulitnya di masa pandemi ini sangat nyata terdengar, mulai dari kehilangan keluarga yang dicintai, hilangnya pekerjaan, dan anak-anak yang putus sekolah karena keterbatasan sarana yang dimiliki. Dalam menangani permasalahan pandemi covid-19 ini, tentunya kita memerlukan adanya solidaritas antar sesama agar cita-cita untuk hidup kembali normal dan menjadikan Indonesia sehat kembali tidak hanya tersimpan di dalam angan.

Dilihat dari perspektif ekonomi, dalam mengatasi permasalahan covid-19 yang kian marak pemerintah telah menggelontorkan dana yang terbilang cukup besar. Dalam aspek jumlah anggaran pemerintah yang diperuntukkan untuk mengurangi dampak negatif dari pandemi COVID-19, Indonesia berada pada peringkat lima besar dari negara-negara di wilayah Asia Pasifik (ADB, 2021). 

Pada tahun 2020, Pemerintah Indonesia mengalokasikan sekitar Rp 695,2 triliun (sekitar US$ 49 miliar) untuk PEN. Oleh karena krisis masih berlangsung, pada bulan Februari 2021 Pemerintah Indonesia kembali mengumumkan alokasi anggaran senilai Rp 699,43 triliun (sekitar US$ 49,3 miliar) untuk melanjutkan keberlangsungan program PEN (Kemenkeu, 2021). Pemerintah juga terus berupaya untuk melakukan perbaikan dalam memperkuat berbagai program perlindungan sosialnya untuk menangani krisis setelah pandemi COVID-19.

Kemudian dilihat dari perspektif pendidikan, yang sebelumnya pembelajaran dilakukan secara tatap muka (luring), tetapi pada masa Pandemi ini sistem pembelajaran tersebut tidak lagi berlaku, guna mengurangi penyebaran virus Covid-19 di Indonesia. Pemerintah akhirnya membuat kebijakan baru dengan cara menerapkan sistem pembelajaran dari rumah masing-masing yaitu daring (Pembelajaran dalam jaringan) melalui berbagai platform mulai dari aplikasi zoom, google meet, e-learning, e-student dan media pembelajaran lainnya. Metode tersebut memanfaatkan jaringan online yang sudah pasti terhubung dengan internet dengan tetap berada di rumah masing- masing dan mengerjakan seluruh kegiatan pembelajaran melalui online.

Agar harapan pandemi menjadi endemi dapat terwujud ada beberapa sikap yang perlu kita terapkan. Kira-kira apa aja sih?? Yuk, kita simak!

  1. Mengesampingkan ego masing-masing

Dalam mengatasi permasalahan pandemi covid-19 agar dapat menjadi endemi, kita perlu untuk menurunkan ego. Kasus yang sering terjadi di tengah masyarakat misalnya tidak mau di vaksin, tidak menggunakan masker, dan tidak menerapkan perilaku sosial distancing. Kebijakan-kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah pastinya memiliki tujuan untuk dapat mengurangi angka persebaran covid-19 yang telah terjadi  upaya sehingga penyembuhan dapat dilakukan secara maksimal. Sudah sepatutnya kita meningkatkan rasa solidaritas kita untuk menaati segala kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah

  1. Saling membantu satu sama lain

Hal yang tak kalah penting dalam mendukung agar permasalahan pandemi dapat cepat terselesaikan adalah saling membantu satu sama lain. Kita perlu tahu, tidak hanya pemerintah yang harus mati-matian dalam menangani kasus covid-19 ini.  Banyak hal yang dapat kita lakukan sebagai masyarakat dalam membantu sesama di masa pandemi ini. Seperti yang sedang tren baru-baru ini adalah bagi-bagi sembako di jalan raya kepada ojek online, memberi makan kepada tetangga atau kerabat yang sedang menjalankan isolasi mandiri dan para influencer yang mengadakan galang dana untuk membeli baju hazmat guna kepentingan tenaga kesehatan.

  1. Disiplin kepada diri sendiri

Disiplin juga merupakan kunci penting agar pandemi dapat segera terselesaikan. Bagaimana tidak, jika tingkat kesadaran dan solidaritas masyarakat makin tinggi untuk rajin mencuci tangan, memakai masker, menjauhi kerumunan, dan menjalankan vaksinasi, maka bukan suatu hal yang mustahil jika pandemi covid-19 dapat segera menjadi endemi.

Dari penjelasan sebelumnya dapat disimpulkan agar pandemi covid-19 dapat menjadi endemi dibutuhkan solidaritas dalam pola perilaku masyarakat dan menerapkan segala kebijakan yang telah  dikeluarkan oleh pemerintah agar penanganan covid-19 ini dapat diatasi secara maksimal. Ada pula yang harus diingat pemerintah tidak dapat bekerja sendiri melainkan memerlukan kerjasama yang baik dengan seluruh lapisan masyarakat agar cita-cita menuju Indonesia yang lebih sehat tidak hanya tersimpan di dalam angan.

Referensi

https://smeru.or.id/id/content/ringkasan-eksekutif-dampak-sosial-ekonomi-covid-19-terhadap-rumah-tangga-dan-rekomendasi

https://yoursay.suara.com/kolom/2021/07/01/143058/dampak-covid-19-terhadap-sektor-pendidikan-di-indonesia