Dampak Penerapan Aplikasi MyPertamina terhadap Masyarakat

MyPertamina (Sumber: Internet)
MyPertamina (Sumber: Internet)

Oleh: Yoga Satria Yanotama – Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

MyPertamina yang kita ketahui merupakan aplikasi yang dikembangkan langsung oleh Pertamina sebagai layanan keuangan digital yang fungsinya sebetulnya mirip dengan aplikasi digital money yang lain. Lewat MyPertamina, memudahkan pengguna dalam membeli beberapa produk dari Pertamina terutama BBM secara nontunai dengan didukung aplikasi LinkAja. 

Pengguna disarankan untuk membuat akun MyPertamina dan LinkAja yang nantinya akan ditautkan sebagai sarana pembayaran nontunai. Awalnya MyPertamina hanya berbentuk gerai barang dagangan Pertamina diluncurkan pada Desember 2016 dengan 3 gerai awal di MT Haryono, Lenteng Agung, Abdul Muis, Jakarta. 

MyPertamina menjual sejumlah produk pertamina mulai berupa baju, topi dan produk lainnya yang memperkenalkan produk-produk Pertamina. Setelah itu, diluncurkan dengan bentuk kartu elektronik dan aplikasi melalui program My Pertamina Loyalty pada Agustus 2017 di acara Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2017 yang akhir-akhir ini mulai aktif untuk membatasi Pertalite dan Solar subsidi yang disinyalir mulai melangka. 

Namun, penerapan ini menuai respon negatif dari masyarakat terutama masyarakat yang masih terbatas dan awam dalam penggunaan gawai terutama orang tua.

Awal munculnya berita yang dilansir dari CNBC Indonesia bahwa serentak tanggal 1 Juli 2022. Pengisian Pertalite dan Solar Subsidi wajib melalui aplikasi MyPertamina agar konsumsi JBKP dan BBM Subsidi lebih tepat sasaran. Tetapi banyak yang mengeluh terhadap penerapan ini karena mengkhawatirkan bagi masyarakat menengah kebawah yang belum memiliki akses gawai dan juga orang tua yang pengetahuannya terbatas soal gawai.

Ditambah banyak pengguna MyPertamina yang mengeluh metode pembayaran yang mewajibkan menggunakan aplikasi LinkAja sebagai fasilitasnya, walaupun masih banyak aplikasi uang digital lain yang sekiranya lebih mudah digunakan terutama fitur QRIS yang absen dalam aplikasi MyPertamina dan hanya menggunakan scan QR khusus yang menyatu dengan aplikasinya. 

Penerapan ini juga sebenarnya melanggar aturan pom bensin salah satunya larangan penggunaan gawai di area pom bensin yang dikhawatirkan akan memicu kebakaran. Dilansir dari CNN Indonesia, tercatat pada 30 Juni 2022 aplikasi MyPertamina mendapat rating hanya 1.3 saja karena tidak sedikit pengguna yang mengeluh aplikasinya yang kurang responsif dan kendala error dalam pembayaran menjadi bukti bahwa aplikasi ini butuh tahap developing lanjutan sebelum dirilis secara umum. 

Namun, PT Pertamina sigap menegaskan bahwa penggunaan aplikasi ini hanya untuk roda 4 yang sebelumnya belum dijelaskan untuk kendaraan apa aplikasi ini ditargetkan seperti yang dilansir dari pikiran-rakyat.com, PT Pertamina (Persero) menyebutkan bahwa penggunaan aplikasi MyPertamina hanya digunakan untuk kendaraan roda 4. 

Penggunaan MyPertamina tersebut bertujuan untuk memastikan penyaluran BBM bersubsidi tepat sasaran dan tepat kuota. Pertamina telah menetapkan mekanisme yang akan digunakan, yakni dengan pendaftaran BBM lewat website subsiditepat.mypertamina.id yang khusus untuk kendaraan roda 4 yang diberlakukan uji coba per tanggal 1 Juli 2022. 

Opini saya, mungkin jika penerapan ini berjalan sukses maka tidak menutup kemungkinan akan dilakukan juga berlaku pengguna roda 2. Maka dari itu, butuh pengarahan dan sosialisasi dari pemerintah serta memberi opsi alternatif bagi masyarakat yang tidak memiliki gawai.

Perlu kita ketahui juga, penerapan ini sebenarnya berguna dalam mengatasi kelangkaan BBM dan kemungkinan naiknya harga BBM di Indonesia. Dilansir dari Republika.co.id Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad menilai pembelian BBM bersubsidi lewat aplikasi MyPertamina memiliki tujuan yang positif. Yaitu untuk membatasi penggunaan kepada orang yang tidak berhak. 

“Pada dasarnya memang tujuannya (aplikasi MyPertamina) ini positif untuk membatasi orang yang tidak berhak bisa mengakses,” kata Tauhid saat dihubungi di Jakarta, Senin (4/7/2022).

Perlu diingat bahwa PT Pertamina perlu membenahi aplikasi demi kenyamanan pengguna dalam bertransaksi dengan merombak total aplikasi dan menambah metode pembayaran yang dianggap nyaman bagi tiap pengguna dan berharap langkah ini akan menanggulangi kelangkaan BBM di tahun-tahun mendatang.

Pos terkait